Jumat, 19 Maret 2010

Belajar kehidupan dari gema di pegunungan

Seorang ayah mengajak ayahnya naik ke pegunungan batu yang berat sekali medannya.
Setelah sampai di satu dataran tinggi, sang anak begitu takjub melihat pemandangan megah mengelilingi mereka.
Sebuah tebing bebatuan yang tersusun tegak mengelilingi mereka.
"Pemandangan ini indah sekali ayah," kata sang anak.
"Benar, yang kita lihat begitu indah, tapi yang akan kita dengar akan begitu berharga," sang ayah menyahut.
"Maksud ayah?" tanya anak tak mengerti
"Silahkan teriak apa saja, nanti kamu mengerti maksud ayah," jawab ayahnya.
Akhirnya sang anak berteriak,
"Woooooi"
lalu terdengar jawaban "Woooi" a
"Kamu siapaaa? lalu di jawab "Kamu siapaaa?"
Sang anak mulai ketagihan.
"Aku orang hebat" lalu ada sahutan lagu "Aku orang hebat"
"Aku jagoan" disahuti lagi "Aku jagoan"
Lalu ayahnya berkata
"Coba teriakkan; Aku orang payah"
Sang anak menurut saja, ia berteriak
"Aku orang payah" lalu teriakannya dijawab "Aku orang payah!"
Sang ayah berkata,
"Anakku, tahukan itu suara apa?"
"Itu suara gema ayah, " jawabnya yakin.
Kali ini ayahnya mulai bicara serius, ia minta anaknya duduk dan memperhatikan setiap ucapannya.
"Dengarkan baik-baik, orang lain mungkin menyebutnya gema, tapi sebenarnya itu adalah pelajaran kehidupan paling berharga. Apa yang kamu pikirkan akan memantul pada dirimu. Jika kamu mengatakan kamu adalah juara, maka suara itu akan masuk ke dalam dirimu, jika kamu mengatakan kamu pecundang, maka itu akan menjadi memantul dan merasuki dirimu. Jika kau katakan kamu orang biasa saja, maka kamu akan menjadi orang biasa. Jika kamu mengatakan kamu luar biasa, maka kamu jadi luar biasa. Jika kamu bilang kamu bisa! maka kamu bisa!.
Dirimu hanyalah refleksi dari apa yang kamu yakini."
Sang anak sadar, walaupun begitu jauh dan melelahkannya perjalanan ini, semuanya layak untuk sebuah pembelajaran yang sangat berharga.